PENGARUH
METABOLIT SEKUNDER CENDAWAN PATOGEN (Fusarium
sp) TERHADAP VIABILITAS BENIH KACANG KEDELAI (Glycine max) dan JAGUNG (Zea mays)
Disusun
Oleh :
1. Andi
Dwi Mandasari (A34100058)
2. Egi
Puspita Sari (A34100060)
3. Nurul
Fatma Wati (A34100061)
4. Sandy
Amarullah Amin (A34100065)
Dosen :
Dr. Ir. Giyanto, MSi.
Asisten:
1. Derry
Aulia Barus (A34090015)
2. Yugih
Tiadi Halala (A34090058)
DEPARTEMEN
PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS
PERTANIAN
INSTITUT
PERTANIAN BOGOR
2012
PENDAHULUAN
Latar belakang
Benih merupakan sumber perbanyakan tanaman budidaya yang
memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Untuk kegiatan budidaya diperlukan benih
yang berkualitas dan memiliki jaminan mutu yang baik. Namun saat ini di
indonesia masih banyak benih bersertifikat yang belum mengutamakan kualitas
mutu kesehatan benih. Syarat Benih bermutu harus memiliki enam kriteria,
murni dan diketahui nama varietasnya, daya tumbuh tinggi (minimal 80%) dan
vigornya baik, biji sehat dan dipanen dari tanaman tua, dipanen dari tanaman
sehat, tidak terinfeksi oleh hama dan penyakit, bersih, tidak tercampur
varietas lain, biji rerumputan, dan kotoran lainnya (Balitbang, 2001). Karenanya untuk mendapatkan benih yang
berkualitas perlu diadakan serangkaian test untuk memastikan bahwa benih yang
kita tanam aman dari gangguan hama maupun
patogen.
Untuk menjamin benih yang akan digunakan tergolong ke
dalam benih yang memiliki mutu tinggi maka perlu dilakukan serangkaian test
termasuk di salamnya pengujian terhadap viabilitas benih menggunakan metode penanaman
pada kertas blotter. Kali ini pengujian viabilitas benih diujikan pada sampel
benih kacang kedelai (Glysine max)
dan sampel benih jagung (Zea Mays)
dengan menggunakan Metabolit sekunder yang dihasilkan oleh salah satu cendawan
patogen tanaman Fusarium sp.
Tujuan
Mengetahui pengaruh konsentrasi
metabolit sekunder yang dihasilkan cendawan Fusarium sp. terhadap
viabilitas benih kedelai dan jagung serta pengaruhnya terhadap penekanan timbulnya
patogen terbawa benih pada media kertas blotter.
BAHAN DAN
METODE
Bahan
Praktikum kali ini menggunakan sampel dua jenis bibit
tanaman yaitu bibit jagung (Zea mays) dan
kedelai (Glysine max), inokulum murni
cendawan Fusarium sp, air destilata.
Alat yang di gunakan pada praktikum kali ini adalah : cawan petri (6 buah),
pinset, gelas ukur,
pipet mikro, saringan, shaker,mikroskop stereo dan kertas blotter.
Metode
Langkah pertama yang harus dilakukan
adalah isolasi cendawan Fusarium sp. dari benih ke media PDA (Potato
Dextrose Agar) lalu dimurnikan. Selanjutnya inokulasikan 3 cork borrer
isolat cendawan murni ke dalam media PDB (Potato Dextrose Broth) 100 ml.
Inkubasi selama 1-2 minggu pada suhu ruang. Selanjutnya di shaker dan inkubasi
dalam suhu 370 C. Lakukan penyaringan pada PDB dan ambil bagian
supernatnya. Setelah itu dilakukan pembuatan larutan metabolit sekunder dengan
konsentrasi 100%, 50%, 25% dan 12.5% dengan pengenceran berseri. Misalnya 100
ml metabolit diambil 50 ml lalu ditambahkan 50 ml air steril (konsentrasi 50%).
Lakukan hal yang sama untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan. Benih
kacang kedelai direndam masing – masing 10 biji setiap konsentrasi selama 15
menit. Selanjutnya benih diplatting ke cawan petri yang telah dilapisi kertas
blotter. Terakhir benih di inkubasi pada suhu ruang selama seminggu dan diamati
viabilitas benih dan gejala yang nampak.
HASIL dan
PEMBAHASAN
HASIL
Tabel
1. Benih kedelai
No.
|
Konsentrasi
|
Foto
|
Daya kecambah
|
Keterangan
|
1.
|
12,5 %
|
90 %
|
Seluruhnya terlihat terinfeksi Fusarium sp. Namun masih terdapat
cendawan lain yang menginfestasi warna miselium putih dan cokelat
|
|
2.
|
25 %
|
100 %
|
Perkebambahan
terbaik akar banyak. Hanya delapan benih yang teridentifikasi terinfksi Fusarium sp.
|
|
3.
|
50 %
|
60 %
|
Keseluruhan
benih berwarna ungu (terinfeksi Fusarium
sp.)
|
|
4.
|
100 %
|
100%
|
Akar kecil
keseluruhan benih terinfeksi Fusarium
sp.
|
Tabel
2 : benih jagung
No.
|
Konsentrasi
|
Foto
|
Daya
kecambah
|
keterangan
|
1.
|
12,5 %
|
0 %
|
Tidak ada yang
terinfeksi Fusarium sp. (tesla
tidak berwarna unggu)
|
|
2.
|
25 %
|
90 %
|
perkecambahan
paling baik (akar adventiv banyak) terdapat dua jenis cendawan lain yang
menyerang (miselium hitam dan putih)
|
|
3.
|
50 %
|
100%
|
perkecambahan
tidak sebaik konsentrasi sebelumnya, seluruh bibit berwarna ungu (terinfeksi Fusarium sp.)
|
|
4.
|
100 %
|
100 %
|
akar sedikit
dan pendek keseluruhan benih terinfeksi Fusarium
sp.
|
Pembahasan
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa benih baik benih
kedelai (Glisine max) maupun benih
jagung (Zea mays) yang direndam
dengan larutan Fusarium Sp dengan
konsentrasi 0,25 % memiliki daya kecambah dan pertumbuhan yang paling baik hal
ini dibuktikan dengan daya berkecambah kedua benih yang mencapai 100% dan
pertumbuhan akar adventif yang baik di jagung, serta kedelai. Namun, tingkat
infeksi Fusarium Sp terhadap benih
yang paling maksimal terjadi pada konsentrasi 50% dan 100%. Hal ini di buktikan
baik di benih jagung maupun benih kedelai tidak terlihat cendawan patogen benih
lain yang menginfestasi maupun yang menginfeksi benih. Keseluruhan benih pada
konsentrasi ini terlihat 100% terinfeksi
Fusarium Sp, dibuktikan dengan kenampakan kulit benih (tesla) yang
seluruhnya berwarna keungguan (terinfeksi Fusarium
Sp).
Data yang tidak sesuai dengan literatur kami peroleh dari
benih jagung dengan konsentrasi 12.5%, dimana keseluruhan benih jagung tidak
ada yang berkecambah meski tidak ada benih yang terinfeksi cendawan patogen Fusarium Sp maupun cendawan patogen lain.
Hal ini mungkin terjadi karena kertas blotter yang digunakan untuk menumbuhkan
benih jagung tidak cukup lembab sehingga benih tidak dapat melakukan
perkecambahan dikarenakan tidak bisa berimbibisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar