PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Teh
adalah sebuah minuman spesial yang khasiatnya tidak bisa digantikan
dengan minuman lainnya. Sejumlah penelitian telah memaparkan bahwa teh
bisa meningkatkan konsentrasi, bisa digunakan sebagai obat penenang,
berkhasiat untuk menghindari penyakit kanker dan penyakit dalam lainnya,
penangkal racun, untuk program diet, bahkan teh juga bisa digunakan
sebagai kecantikan dan ramuan awet muda. Tidak hanya khasiatnya yang
begitu berfaedah bagi manusia, namun juga aromanya yang khas tersebut
dipakai oleh perusahaan untuk memberikan aroma khas dari daun teh
sebagai pengharum ruangan bahkan parfum.
Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein
mendekati nol persen. Komposisi dari teh inilah yang membuat teh
merupakan minuman paling populer di dunia setelah air biasa. Di
Indonesia sendiri, teh merupakan minuman yang cukup populer. Namun,
konsumsi teh di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara di dunia
ini. Padahal, perlu kita tahu bahwa Indonesia adalah pengekspor teh
nomor lima terbesar di dunia.
Pengelompokan teh berdasarkan
tingkat oksidasi yang pertama adalah Teh Putih, teh ini dibuat dari
pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum
dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangipembentukan
klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan
teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Yang kedua adalah Teh
Hijau, daun teh ini yang dijadikan teh hijau biasanya langsungdiproses
setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal,
proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan, yang ketiga adalah Teh
Oolong,teh jenis ini mengalami proses oksidasi dihentikan di
tengah-tengah antara The Hijau dan Teh Hitam yang biasanya memakan waktu
2 sampai 3 hari. Yangkeempat adalah Teh Merah atau Teh Hitam. Daun teh
dibiarkan teroksidasi secarapenuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh
kelima adalah Teh pu-erh, teh ini Tehpu-erh yang masih "mentah" bisa
langsung digunakan untuk dibuat teh atau disimpan beberapa waktu hingga
"matang". Teh pu-erh yang masih "mentah" kadang-kadang disimpan sampai
30 tahun bahkan 50 tahun agar matang. Sedangkan teh-teh yang lain adalah
Teh Kuning, Kukicha,Genmaicha (TehJepang), Teh Melati, dan Teh Bunga).
Kita
semua tahu bahwa tanaman teh yang dimanfaatkan adalah bagian daunnya.
Tentu saja daun teh yang sehatlah yang bisa menghasilkan faedah yang
begitu bermanfaat bagi manusia. Namun, daun teh yang multifaedah ini
tidak hanya disukai oelh penikmat teh pada umumnya, namun juga banyak
mikroorganisme lain yang memanfaatkan daun teh ini untuk melangsungkan
kehidupannya. Tentu saja hal ini membuat tanaman teh sebagai tanaman
inang (host) merasa terganggu dengan adanya aktivitas mikroorganisme
ini.
Mikroorganisme yang sering menyerang bagian fisiologis
tanaman teh ini cukup beragam, mulai dari bakteri, ganggang, bahkan
cendawanpun bisa menginfeksi jaringan daun dari tanaman teh ini.
Penyakit sebagai respon adanya aktivitas makhluk yang dianggap asing
oleh tanaman inang inipun sangat beragam, muali dari cacar teh, karat
daun, busuk daun, dan penyakit mati ujung. Tentu saja penyakit ini
menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani tehnya dan juga bisa
mengakibatkan perekonomian Indonesia menjadi terpuruk. Pernah terjadi
suatu kejadian penyakit cacar daun teh disebabkan oleh cendawan Exobasidium vexans
yang berasal dari Sri Lanka. Kerugian mencapai 30 sampai 50% dari total
nilaiRp 114 .000.000,- pada tahun 1951. Namun data ini memang tidak
represantatif.Untuk saat ini, tapi masih dapat dijadikan pedoman bahwa
penyakit ini dapat merugikan pertanaman teh di Indonesia (Sukarja 1983).
Salah
satu penyakit yang cukup dominan terjadi di areal perkebunan teh di
Indonesia adalah penyakit mik yang disebabkan oleh ganggang dari spesies
Cephaleuros virescens. Dalam makalah ini akan dibahas tingkat
kejadian penyakit dan tingkat keparahan penyakit pada kebun teh yang
berada di kebun Cikabayan, di dalam kampus Dramaga IPB yang
pengamatannya dilakukan sekali setiap minggu dalam waktu tiga minggu.
Perlu diketahui juga bahwa dalam makalah ini hanya difokuskan tentang
bagaimana perkembangan suatu kejadian penyakit serta keparahannya dari
minggu ke minggu serta mencari faktor-faktor yang berpengaruh terhadapa
perkembangan penyakit mik pada tanaman teh ini.
Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah atu tugas
dari Mata Kuliah Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Selain itu, makalah ini
juga bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan penyakit dari
minggu ke minggu serta mengatahui berbagai faktor yang bisa mempengaruhi
perkembangan penyakit ini.
Manfaat
Setelah
mengetahui kesimpulan dari berbagai tujuan pembuatan makalah ini,
manfaat yang bisa didapat yaitu bisa mengetahui kapan dilakukan
pengendalian. Hal ini karena jika tingkat keparahan penyakit hanya
terjadi 5%, walaupun kejadian penyakitnya mencapai 100%, pengendalian
tidak perlua dilakukan karena dianggap tidak menimbulkan kerugian secara
ekonomi. Selain itu, manfaat yang bisa diaplikasikan yaitu mengatahui
jenis pengendalian yang tepat, entah itu pengendalian secara fisik
maupun mekanik, secara biologi atau hayati, bahkan jika sudah terlampau
besar tingkat keparahan penyakitnya bisa dilakukan pengendalian secara
kimiawi. Terlepas dari itu semua, monitoring atau pengamatan merupakan
hal yang wajib dilakukan oleh seorang pekebun maupun peneliti.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah dan asal usul teh
Tanaman
teh termasuk genus Camellia yang memiliki sekitar 82 spesies,terutama
tersebar di kawasan Asia Tenggara pada garis lintang 30° sebelah utara
maupun selatan khatulistiwa. Tanaman teh (Camellia sinensis) berasal
dariwilayah perbatasan negara-negara Cina Selatan (Yunan), Laos Barat
Laut,Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur Laut, yang merupakan
vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis.
Tanaman teh
pertama kali masuk keIndonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang
yang dibawa oleh orang Jermanbernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai
tanaman hias di Jakarta. Padatahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam
melengkapi Kebun Raya Bogor, danpada tahun 1827 di Kebun Percobaan
Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Pada tahun1828 masa pemerintahan Gubernur
Van Den Bosh, Teh menjadi salah satutanaman yang harus ditanam rakyat
melalui politik Tanam Paksa (CultureStelsel) (Mahfud dkk
1998).Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa
(Purwakarta)dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus
Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan
bagi usaha perkebunan teh di Jawa.
Teh dari Jawa tercatat pertama
kali diterima di Amsterdam tahun 1835.Teh jenis Assam mulai masuk ke
Indonesia (Jawa) dari Sri Lanka (Ceylon) padatahun 1877, dan ditanam
oleh R.E. Kerkhoven di kebun Gambung, Jawa Barat.Dengan masuknya teh
Assam tersebut ke Indonesia, secara berangsur tanaman tehChina diganti
dengan teh Assam, dan sejak itu pula perkebunan teh di
Indonesiaberkembang semakin luas. Pada tahun 1910 mulai dibangun
perkebunan teh didaerah Simalungun, Sumatera Utara (Sultoni 1992).
Budidaya atau penanaman teh di Indonesia
Tanaman
teh umumnya dapat dipanen secara terus menerus setelah berumur 5 tahun
dan apabila dipelihara dengan baik, tanaman ini dapat memberikan hasil
yang cukup baik selama 40 tahun. Pada umumnya, teh tumbuh di daerah
tropis dengan ketinggian antara 200 sampai 2000 meter diatas permukaan
laut. Suhu cuaca antara 14 sampai 2500C.
Ketinggian
tanaman dapat mencapai hingga 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, ada
yang berkisar antara 12 sampai 20 metertingginya untuk tanaman Teh jenis
Assamica. Hingga saat ini, di seluruh dunia terdapat sekitar 1500 jenis
teh yang berasal dari 25 negara. Untuk mempermudah pemetikan daun-daun
teh, maka pohon teh selalu dijaga pertumbuhannya, dengan cara selalu
dipangkas sehingga ketinggannya tidak lebih dari 1 meter.
Jenis
tanah yang cocok untuk teh adalah Andosol, Regosol dan Latosol. Namun
teh juga dapat dibudidayakan di tanah Podsolik (Ultisol), Gley Humik,
Litosol dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal,
struktur remah, berlempung sampai berdebu, dan gembur.
Derajat
keasaman tanah (pH) berkisar antara 4.5 sampai 6.0. Berdasarkan
ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi 2 daerah yaitu:
(1) dataran rendah : sampai 800 m dpl; (2) dataran sedang: 800 sampai
1.200 m dpl; dan (3) dataran tinggi: lebih dari 1.200 meter dpl.
Perbedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan
kualitas teh. (Sultoni 1992).
Penyakit-penyakit yang terjadi pada teh
Beberapa penyakit yang sering meyerang tanaman teh diantaranya: CacarTeh (Exobasidium vexans).
Menyerang daun dan ranting muda. Gejala: bintik-bintik kecil tembus
cahaya dengan diameter 0,25 mm, pada stadium lanjut pusatbercak menjadi
coklat dan terlepas sehingga daun bolong atau berlubang.Pengendalian:
mengurangi pohon pelindung, pemangkasan sejajar permukaantanah,
pemetikan dengan daur pendek (9 hari).
Penyakit Busuk daun
(Cylindrocladum scoparium). Gejala: daun induk berbercak coklat dimulai
dariujung/ketiak daun, daun rontok, setek akan mati. Pengendalian:
mencelupkan stek ke dalam fungisida. Jika persemaian terserang
semprotkan benomyl 0.2%.
Mati ujung pada bidang petik (Pestalotia tehae),
sering menyerang klonTRI 2024. Gejala: bekas petikan berbercak coklat
dan meluas ke bawah danmengering, pucuk baru tidak terbentuk.
Pengendalian: pemupukan tepat waktu,pemetikan tidak terlalu berat,
fungisida yang mengandung tembaga.
Penyakit akarmerah anggur (Ganoderma pseudoferreum).
Gejala: tanaman menguning, layu,mati. Pengendalian: membongkar dan
membakar teh yang sakit, menggali selokansedalam 60 sampai 100 cm di
sekeliling tanaman sehat, fumigasi metil bromidaatau Vapam.
Penyakit berikutnya penyakit akar merah bata (Proriahypolatertia).
Di dataran tinggi 1.000 sampai 1.500 meter dpl. Ditularkan melalui
kontak akar, Gejala: sama dengan penyakit akar merah anggur.
Pengendalian: sama dengan penyakit akar merah anggur.
Penyakit akar hitam ( Rosellinia arcuata)
di daerah 1.500 meter dpl dan R.bunodes di daerah 1.000 meter dpl.
Gejala: daun layu, menguning, rontok dantanaman mati, terdapat benang
hitam di bagian akar, di permukaan kayu akarterdapat benang putih (R. arcuata) atau hitam (R. bunodes).
Pengendalian: samadengan penyakit akar umumnya. Selain itu ada, Jamur
akar coklat jamur kanker belah, jamur leher akar, jamur busuk akar ,
jamur akar hitam. Menyerang akar, pengendaliannya : sama dengan penyakit
akar umumnya (Sukarja 1983).
Penyakit karat merah (Cephaleuros virescens)
berwarna merah jingga muncul karena adanya hormone hematokrom yang
muncul saat kotak spora siapberproduksi. Gejalanya yaitu muncul bintik
orange kecoklatan berbentuk cakram di permukaan atas daun yang
lama-kelamaan melebar dan tampak hangus. Ini dikarenakan alga
memproduksi filament yang menjadi tempat berkembangnya zoosporangium.
Zoosporangium kemudian menghasilkan zoospora yang menyebar lewat angin,
percikan air, dan hujan. Zoospora biasanya menginfeksi daun muda, tunas,
dan buah. Penanggulangannya secara mekanis yaitu cabang yang terinfeksi
biasanya ternaungi, pangkas atau hilangkan naungannya. Memperbaiki
drainase agar kelembabannya berkurang. Secara kimiawi dapat
menyemprotkan pestisida berbahan aktif tembaga dan senyawanya. Budidaya
yang dapat dilakukan yaitu mencegah tanaman stress dengan mencukupi
kebutuhan air dan pupuk. Pangkas secara teratur agar sinar matahari
mengenai semua bagian tanaman (Sinulingga, 2001)
BAB III
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Bahan
yang digunakan adalah tanaman teh yang berada di Cikabayan. Sample yang
diambil ada 30 tanaman teh, yang terbagi 10 daun tanaman teh dibagian
atas, tengah, dan bawah. Daun teh yang diamati terserang penyakit bercak
daun. Alat yang dipakai adalah alat tulis, buku dan kakulator untuk
menghitung rumus.
Metode
Metode
penilaian penyakit yang digunakan dalam praktikum kali ini ada dua,
yaitu metode kelas serangan ( scoring ) dan metode proporsi langsung.
Menghitung menggunakan metode scoring, pertama ambil sample daun teh
yang sakit 10lembar daun. Amati luas serangan yang terjadi pada tiap
daun, nyatakan luas serangan tadi pada bentuk persen. Kemudian beri skor
sesuai dengan rentang nilai dari table skor. Pengamatan dan pemberian
skor dilakukan pada setiap daun teh. Setelah keseluruhan daun diberi
skor, lalu hitung keparahan penyakit (DS)
Metode perhitungan
dengan proporsi langsung juga diawali dengan menghitung persentase luas
daun yang terserang bercak. Keseluruhan daun teh diamati dan ditentukan
persentase luas bercaknya satu per satu. Akan tetapi dalam metode ini
daun tidak perlu diberi skor.
BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Tabel 1 : persentase keparahan penyakit karat merah selama 3 minggu
| Tanaman sampel | Presentase (%) | ||
| Minggu 1 | Minggu 2 | Minggu 3 | |
| 1 | 8 | 10 | 11 |
| 2 | 7 | 9 | 3 |
| 3 | 4 | 4 | 5 |
| 4 | 4 | 4 | 7 |
| 5 | - | - | - |
| 6 | 4 | 5 | 3,67 |
| 7 | 3 | 5 | 3 |
| 8 | 2 | 5 | 3 |
| 9 | 6,25 | 16,6 | 8,12 |
| 10 | - | 7,69 | 5,42 |
| 11 | 13,75 | 24 | 24,41 |
| 12 | 33,3 | 25,5 | 30,43 |
| 13 | 20 | 28 | 24 |
| 14 | - | - | - |
| 15 | 1,45 | 1,5 | 1,85 |
| 16 | 2,17 | 2,18 | 2,2 |
| 17 | 3,24 | 3,4 | 3,45 |
| 18 | 4,30 | 4,2 | 4,25 |
| 19 | 5,10 | 5,1 | 5,12 |
| 20 | 5 | 6 | 5 |
| Rata-rata | 6,328 | 8,308 | 7,74 |
| Keparahan penyakit | 19% | 20% | 20% |
| Kejadian penyakit | 72% | ||
Tabel 2 : skoring
| Skor | Presentasi (%) |
| 1 | 0-15 |
| 2 | 16-32 |
| 3 | 33-48 |
| 4 | 49-64 |
| 5 | 65-81 |
| 6 | 82-100 |
hasil perhitungan
- 1. Kejadian penyakit
Karena dari 20 sampel tanaman hanya 18 tanaman yang terinfeksi patogen.
- 2. Keparahan penyakit
= 19%
Pembahasan
Pengukuran
penyakit sering kali masih bersifat subjektif sehingga dalam
mengkuantitatifkan penyakit perlu dibuat standar diagram yang spesifik
untuk masing-masing jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi dan bagian
tanaman yang terserang, misalnya daun muda, daun tua, atau keseluruhan
daun (Sinaga, 2006). Diseases severity (DS) atau intensitas penyakit
adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai gejala penyakit
karena serangan patogen dalam satu tanaman.
Intensitas penyakit
merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu
penyakit baik pada populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009).
Sedangkan kejadian penyakit (KiP) adalah persentase jumlah tanaman yang
terserang patogen (n) dari total tanaman yang diamati (N). Adapun rumus
perhitungan dari insidensi penyakit = (n/N) x 100% (n = jumlah tanaman
yang tergolong dalam suatu kategori serangan, N = jumlah tanaman yang
diamati). Sedangkan severitas penyakit atau keparahan penyakit =
{(∑nxv)/(NxV)}x100% (v = skor pada setiap kategori serangan, V = skor
untuk kategori serangan terberat). Sangat penting bagi kita untuk
mengetahui seberapa parah intensitas penyakit yang ada pada suatu area
tanam dan menentukan tingkat serangan pertanaman dalam populasi. Oleh
karena itu, terdapat beberapa metode untuk menghitung tingkat intesitas
atau keparahan penyakit. Dua diantaranya adalah metode kelas serangan
(scoring) dan metode proporsi langsung.
Kedua metode ini cocok
digunakan untuk penyakit-penyakit yang menunjukkan gejala parsial (tidak
sistemik) contohnya bercak daun, dll. Pada metode serangan atau skoring
menggunakan pembagian kelas atau skor dalam menilai skala kerusakan
tanaman. Terdapat lima kelas ditambah satu kelas yaitu 0. Pada daun teh
yang kami amati, penilaian tergantung dari seberapa luas (%) permukaan
daun yang terserang bercak lalu diberi skor sesuai dengan selang nilai
kelas serangannya. Untuk metode proporsi langsung tidak menggunakan
pembagian kelas serangan atau skor. Penilaian keparahan penyakit
dihitung langsung dengan memperkirakan presentase luas permukaan daunt
teh yang terserang karat merah.
Besar kecilnya keparahan penyakit
ini sangat dipengaruhi oleh skala penyakit tanaman. Semakin parah
penyakit pada tanaman maka skala penyakit akan semakin tinggi. Besarnya
nilai keparahan penyakit pada tanaman teh telah sesuai dengan pengamatan
dimana sepanjang hamparan pertanaman teh sangat mudah dijumpai penyakit
karat merah pada daun yang disebabkan oleh Chepaleuros pestalotia.
Gejala
penyakit terlihat dari atas permukaan daun yang tampak bercak-bercak
kemerahan dan berbulu. Penyakit ini umumnya menyerang daun tua. Bercak
karat merah alga Chepaleuros sp. berwarna merah jingga timbul
karena adanya hormon hematokrom yang muncul saat kotak spora siap
berproduksi. Gejalanya muncul bintik orange kecoklatan berbentuk cakram
di permukaan atas daun yang lama-kelamaan melebar dan tampak hangus. Ini
karena alga memproduksi filamen yang menjadi tempat berkembangnya
zoosporangium. Zoosporangium kemudian menghasilkan zoospora yang
menyebar lewat angin, percikan air, dan hujan. Zoospora biasanya
menginfeksi daun muda, tunas, dan buah.
Pengendalian penyakit
dilakukan secara mekanis yaitu cabang yang terinfeksi biasanya
teranungi, pangkas, atau hilangkan naungannya. Kemudian, memperbaiki
drainase agar kelembagaan berkurang. Secara kimiawi dapat menyemprotkan
pestisida berbahan aktif tembaga dan senyawanya. Budidaya yang dapat
dilakukan yaitu mencegah tanaman stress dengan mencukupi kebutuhan air
dan pupuk. Pangkas secara teratur agar mengenai semua bagian tanaman.
Selain itu, pengendalian lainnya yaitu menggunakan pestisida,
penyemprotan pestisida tidak dilakukan secara rutin melainkan ada
waktunya. Karena jika disemprot pestida secara terus menerus takutnya
akan berdampak pada kesehatan manusia yaitu mengkonsumsi teh tersebut.
Penggunaan pestisida yang jarang menyebabkan tanaman teh rentan
terserang hama yaitu hama trips, ulat grayak, ulat jengkal, dan ulat
penggerek pohon.
Praktikum kali ini kami lakukan di daerah
pertanaman percobaan Cikabayan, Dramaga Bogor. Karat merah tampak berupa
bulatan merah bata kecoklatan dengan diameter beragam, tanda penyakit
ini banyak ditemukan pada daun teh yang tua, namun ditemukan juga pada
daun teh yang muda tetapi dengan jumlah yang lebih sedikit.
Pada
hasil perhitungan kejadian penyakit kelompok kami memperoleh hasil 72 %,
sedangkan untuk tingkat keparahan penyakit hasil yang didapatkan
berturut-turut dari minggu ke-1 sampai minggu ke-3 adalah 19%, 20%, dan
20%. Sebenarnya data pada minggu ke 3 tidak valid karena kami menemukan
ada daun yang ditandai pada tanaman sampel menghilang akibat kegiatan
peremajaan atau pemetikan daun yang dilakukan oleh pengelola
BAB V
KESIMPULAN
Tingkat
kejadian penyakit merupakan data yg merepresentasikan berapa persen
tanaman yang ada di lapangan yang terserang penyakit, sedangkan
keparahan penyakit merepresentasikan seberapa parah patogen menyerang
dan menyebabkan gejala pada tiap tanaman di lapangan, hasil yang di
peroleh pada kejadian maupun keparahan penyakit tidak selalu sama pada
kasus kali ini tingkat kejadian penyakit sebesar 72 % dan tingkat
keparahan penyakit berturut – turut dari minggu ke satu sampai minggu ke
tiga adalah 19 %, 20%, 20%.
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2008. KejadianPenyakit.(terhubung berkala). http://www.fpik.unair.ac.id (08 Mei 2012)
[Anonim]. 2012. Cephaleuros pada teh. (terhubung berkala) http://ucjeps.berkeley.edu/constancea/83/lopez_etal/trent_allfigs.html (12 Mei 2012)
Delvin, M. Robert. 1966. Diseases Severity. New York: Reinhold Publsihing
M.Sultoni Arifin, Dr. dkk. 1992. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Teh. PusatPenelitian Perkebunan Gambung. Bandung
Rasjid Sukarja, Ir. 1983. Petunjuk Singkat Pengelolaan Kebun Teh. BadanPelaksana Protek Perkebunan Teh Rakyat dan Swasta Nasional. Bandung.
Sinulingga, A.P. 2001. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman teh (Camellia sinensis (L) kuntze) di PTPN VIII perkebunan Gedeh, Cianjur Jawa Barat. Bogor: Istitut Pertanian Bogor
Zadoks,C.J. and R.D.Schein. 1979. Epidemiology and Plant Disease Management. New York: Oxford University Press. 427 pp
Tidak ada komentar:
Posting Komentar