Kamis, 18 Oktober 2012

“INTENSITAS PENYAKIT MIK OLEH Cephaleuros virescens PADA TANAMAN TEH”



PENDAHULUAN

1.1        Latar belakang

Teh adalah sebuah minuman spesial yang khasiatnya tidak bisa digantikan dengan minuman lainnya. Sejumlah penelitian telah memaparkan bahwa teh bisa meningkatkan konsentrasi, bisa digunakan sebagai obat penenang, berkhasiat untuk menghindari penyakit kanker dan penyakit dalam lainnya, penangkal racun, untuk program diet, bahkan teh juga bisa digunakan sebagai kecantikan dan ramuan awet muda. Tidak hanya khasiatnya yang begitu berfaedah bagi manusia, namun juga aromanya yang khas tersebut dipakai oleh perusahaan untuk memberikan aroma khas dari daun teh sebagai pengharum ruangan bahkan parfum.
Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Komposisi dari teh inilah yang membuat teh merupakan minuman paling populer di dunia setelah air biasa. Di Indonesia sendiri, teh merupakan minuman yang cukup populer. Namun, konsumsi teh di Indonesia masih jauh di bawah negara-negara di dunia ini. Padahal, perlu kita tahu bahwa Indonesia adalah pengekspor teh nomor lima terbesar di dunia.
Pengelompokan teh berdasarkan tingkat oksidasi yang pertama adalah Teh Putih, teh ini dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangipembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Yang kedua adalah Teh Hijau, daun teh ini yang dijadikan teh hijau biasanya langsungdiproses setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal, proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan, yang ketiga adalah Teh Oolong,teh jenis ini mengalami proses oksidasi dihentikan di tengah-tengah antara The Hijau dan Teh Hitam yang biasanya memakan waktu 2 sampai 3 hari. Yangkeempat adalah Teh Merah atau Teh Hitam. Daun teh dibiarkan teroksidasi secarapenuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh kelima adalah Teh pu-erh, teh ini Tehpu-erh yang masih "mentah" bisa langsung digunakan untuk dibuat teh atau disimpan beberapa waktu hingga "matang". Teh pu-erh yang masih "mentah" kadang-kadang disimpan sampai 30 tahun bahkan 50 tahun agar matang. Sedangkan teh-teh yang lain adalah Teh Kuning, Kukicha,Genmaicha (TehJepang), Teh Melati, dan Teh Bunga).
Kita semua tahu bahwa tanaman teh yang dimanfaatkan adalah bagian daunnya. Tentu saja daun teh yang sehatlah yang bisa menghasilkan faedah yang begitu bermanfaat bagi manusia. Namun, daun teh yang multifaedah ini tidak hanya disukai oelh penikmat teh pada umumnya, namun juga banyak mikroorganisme lain yang memanfaatkan daun teh ini untuk melangsungkan kehidupannya. Tentu saja hal ini membuat tanaman teh sebagai tanaman inang (host) merasa terganggu dengan adanya aktivitas mikroorganisme ini.
Mikroorganisme yang sering menyerang bagian fisiologis tanaman teh ini cukup beragam, mulai dari bakteri, ganggang, bahkan cendawanpun bisa menginfeksi jaringan daun dari tanaman teh ini. Penyakit sebagai respon adanya aktivitas makhluk yang dianggap asing oleh tanaman inang inipun sangat beragam, muali dari cacar teh, karat daun, busuk daun, dan penyakit mati ujung. Tentu saja penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani tehnya dan juga bisa mengakibatkan perekonomian Indonesia menjadi terpuruk. Pernah terjadi suatu kejadian penyakit cacar daun teh disebabkan oleh cendawan Exobasidium vexans yang berasal dari Sri Lanka. Kerugian mencapai 30 sampai 50% dari total nilaiRp 114 .000.000,- pada tahun 1951. Namun data ini memang tidak represantatif.Untuk saat ini, tapi masih dapat dijadikan pedoman bahwa penyakit ini dapat merugikan pertanaman teh di Indonesia (Sukarja 1983).
Salah satu penyakit yang cukup dominan terjadi di areal perkebunan teh di Indonesia adalah penyakit mik yang disebabkan oleh ganggang dari spesies Cephaleuros virescens. Dalam makalah ini akan dibahas tingkat kejadian penyakit dan tingkat keparahan penyakit pada kebun teh yang berada di kebun Cikabayan, di dalam kampus Dramaga IPB yang pengamatannya dilakukan sekali setiap minggu dalam waktu tiga minggu. Perlu diketahui juga bahwa dalam makalah ini hanya difokuskan tentang bagaimana perkembangan suatu kejadian penyakit serta keparahannya dari minggu ke minggu serta mencari faktor-faktor yang berpengaruh terhadapa perkembangan penyakit mik pada tanaman teh ini.

Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah atu tugas dari Mata Kuliah Ilmu Penyakit Tumbuhan Dasar. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan penyakit dari minggu ke minggu serta mengatahui berbagai faktor yang bisa mempengaruhi perkembangan penyakit ini.

 Manfaat

Setelah mengetahui kesimpulan dari berbagai tujuan pembuatan makalah ini, manfaat yang bisa didapat yaitu bisa mengetahui kapan dilakukan pengendalian. Hal ini karena jika tingkat keparahan penyakit hanya terjadi 5%, walaupun kejadian penyakitnya mencapai 100%, pengendalian tidak perlua dilakukan karena dianggap tidak menimbulkan kerugian secara ekonomi. Selain itu, manfaat yang bisa diaplikasikan yaitu mengatahui jenis pengendalian yang tepat, entah itu pengendalian secara fisik maupun mekanik, secara biologi atau hayati, bahkan jika sudah terlampau besar tingkat keparahan penyakitnya bisa dilakukan pengendalian secara kimiawi. Terlepas dari itu semua, monitoring atau pengamatan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh seorang pekebun maupun peneliti.


 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Sejarah dan asal usul teh


Tanaman teh termasuk genus Camellia yang memiliki sekitar 82 spesies,terutama tersebar di kawasan Asia Tenggara pada garis lintang 30° sebelah utara maupun selatan khatulistiwa. Tanaman teh (Camellia sinensis) berasal dariwilayah perbatasan negara-negara Cina Selatan (Yunan), Laos Barat Laut,Muangthai Utara, Burma Timur dan India Timur Laut, yang merupakan vegetasi hutan daerah peralihan tropis dan subtropis.
Tanaman teh pertama kali masuk keIndonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh orang Jermanbernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Padatahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, danpada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Pada tahun1828 masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satutanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa (CultureStelsel) (Mahfud dkk 1998).Berhasilnya penanaman percobaan skala besar di Wanayasa (Purwakarta)dan di Raung (Banyuwangi) membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.
Teh dari Jawa tercatat pertama kali diterima di Amsterdam tahun 1835.Teh jenis Assam mulai masuk ke Indonesia (Jawa) dari Sri Lanka (Ceylon) padatahun 1877, dan ditanam oleh R.E. Kerkhoven di kebun Gambung, Jawa Barat.Dengan masuknya teh Assam tersebut ke Indonesia, secara berangsur tanaman tehChina diganti dengan teh Assam, dan sejak itu pula perkebunan teh di Indonesiaberkembang semakin luas. Pada tahun 1910 mulai dibangun perkebunan teh didaerah Simalungun, Sumatera Utara (Sultoni 1992).


Budidaya atau penanaman teh di Indonesia

 Tanaman teh umumnya dapat dipanen secara terus menerus setelah berumur 5 tahun dan apabila dipelihara dengan baik, tanaman ini dapat memberikan hasil yang cukup baik selama 40 tahun. Pada umumnya, teh tumbuh di daerah tropis dengan ketinggian antara 200 sampai 2000 meter diatas permukaan laut. Suhu cuaca antara 14 sampai 2500C.
Ketinggian tanaman dapat mencapai hingga 9 meter untuk Teh Cina dan Teh Jawa, ada yang berkisar antara 12 sampai 20 metertingginya untuk tanaman Teh jenis Assamica. Hingga saat ini, di seluruh dunia terdapat sekitar 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara. Untuk mempermudah pemetikan daun-daun teh, maka pohon teh selalu dijaga pertumbuhannya, dengan cara selalu dipangkas sehingga ketinggannya tidak lebih dari 1 meter.
Jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andosol, Regosol dan Latosol. Namun teh juga dapat dibudidayakan di tanah Podsolik (Ultisol), Gley Humik, Litosol dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah, berlempung sampai berdebu, dan gembur.
Derajat keasaman tanah (pH) berkisar antara 4.5 sampai 6.0. Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi 2 daerah yaitu: (1) dataran rendah : sampai 800 m dpl; (2) dataran sedang: 800 sampai 1.200 m dpl; dan (3) dataran   tinggi: lebih dari 1.200 meter dpl. Perbedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh. (Sultoni 1992).

 Penyakit-penyakit yang terjadi pada teh

Beberapa penyakit yang sering meyerang tanaman teh diantaranya: CacarTeh (Exobasidium vexans). Menyerang daun dan ranting muda. Gejala: bintik-bintik kecil tembus cahaya dengan diameter 0,25 mm, pada stadium lanjut pusatbercak menjadi coklat dan terlepas sehingga daun bolong atau berlubang.Pengendalian: mengurangi pohon pelindung, pemangkasan sejajar permukaantanah, pemetikan dengan daur pendek (9 hari).
Penyakit Busuk daun (Cylindrocladum scoparium). Gejala: daun induk berbercak coklat dimulai dariujung/ketiak daun, daun rontok, setek akan mati. Pengendalian: mencelupkan stek ke dalam fungisida. Jika persemaian terserang semprotkan benomyl 0.2%.
Mati ujung pada bidang petik (Pestalotia tehae), sering menyerang klonTRI 2024. Gejala: bekas petikan berbercak coklat dan meluas ke bawah danmengering, pucuk baru tidak terbentuk. Pengendalian: pemupukan tepat waktu,pemetikan tidak terlalu berat, fungisida yang mengandung tembaga.
Penyakit akarmerah anggur (Ganoderma pseudoferreum). Gejala: tanaman menguning, layu,mati. Pengendalian: membongkar dan membakar teh yang sakit, menggali selokansedalam 60 sampai 100 cm di sekeliling tanaman sehat, fumigasi metil bromidaatau Vapam.
Penyakit berikutnya penyakit akar merah bata (Proriahypolatertia). Di dataran tinggi 1.000 sampai 1.500 meter dpl. Ditularkan melalui kontak akar, Gejala: sama dengan penyakit akar merah anggur. Pengendalian: sama dengan penyakit akar merah anggur.
Penyakit akar hitam ( Rosellinia arcuata) di daerah 1.500 meter dpl dan R.bunodes di daerah 1.000 meter dpl. Gejala: daun layu, menguning, rontok dantanaman mati, terdapat benang hitam di bagian akar, di permukaan kayu akarterdapat benang putih (R. arcuata) atau hitam (R. bunodes). Pengendalian: samadengan penyakit akar umumnya. Selain itu ada, Jamur akar coklat jamur kanker belah, jamur leher akar, jamur busuk akar , jamur akar hitam. Menyerang akar, pengendaliannya : sama dengan penyakit akar umumnya (Sukarja 1983).
Penyakit karat merah (Cephaleuros virescens) berwarna merah jingga muncul karena adanya hormone hematokrom yang muncul saat kotak spora siapberproduksi. Gejalanya yaitu muncul bintik orange kecoklatan berbentuk cakram di permukaan atas daun yang lama-kelamaan melebar dan tampak hangus. Ini dikarenakan alga memproduksi filament yang menjadi tempat berkembangnya zoosporangium. Zoosporangium kemudian menghasilkan zoospora yang menyebar lewat angin, percikan air, dan hujan. Zoospora biasanya menginfeksi daun muda, tunas, dan buah. Penanggulangannya secara mekanis yaitu cabang yang terinfeksi biasanya ternaungi, pangkas atau hilangkan naungannya. Memperbaiki drainase agar kelembabannya berkurang. Secara kimiawi dapat menyemprotkan pestisida berbahan aktif tembaga dan senyawanya. Budidaya yang dapat dilakukan yaitu mencegah tanaman stress dengan mencukupi kebutuhan air dan pupuk. Pangkas secara teratur agar sinar matahari mengenai semua bagian tanaman (Sinulingga, 2001)


BAB III
BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan adalah tanaman teh yang berada di Cikabayan. Sample yang diambil ada 30 tanaman teh, yang terbagi 10 daun tanaman teh dibagian atas, tengah, dan bawah. Daun teh yang diamati terserang penyakit bercak daun. Alat yang dipakai adalah alat tulis, buku dan kakulator untuk menghitung rumus.


 Metode

Metode penilaian penyakit yang digunakan dalam praktikum kali ini ada dua, yaitu metode kelas serangan ( scoring ) dan metode proporsi langsung. Menghitung menggunakan metode scoring, pertama ambil sample daun teh yang sakit 10lembar daun. Amati luas serangan yang terjadi pada tiap daun, nyatakan luas serangan tadi pada bentuk persen. Kemudian beri skor sesuai dengan rentang nilai dari table skor. Pengamatan dan pemberian skor dilakukan pada setiap daun teh.  Setelah keseluruhan daun diberi skor, lalu hitung keparahan penyakit (DS)
Metode perhitungan dengan proporsi langsung juga diawali dengan menghitung persentase luas daun yang terserang bercak. Keseluruhan  daun teh diamati dan ditentukan persentase luas bercaknya satu per satu. Akan tetapi dalam metode ini daun tidak perlu diberi skor.

BAB IV
HASIL dan PEMBAHASAN


 Hasil Pengamatan
Tabel 1 : persentase keparahan penyakit karat merah selama 3 minggu
Tanaman sampelPresentase (%)
Minggu 1Minggu 2Minggu 3
181011
2793
3445
4447
5---
6453,67
7353
8253
96,2516,68,12
10-7,695,42
1113,752424,41
1233,325,530,43
13202824
14---
151,451,51,85
162,172,182,2
173,243,43,45
184,304,24,25
195,105,15,12
20565
Rata-rata6,3288,3087,74
Keparahan penyakit19%20%20%
Kejadian penyakit72%


Tabel 2 : skoring
SkorPresentasi (%)
10-15
216-32
333-48
449-64
565-81
682-100

hasil perhitungan
  1. 1.      Kejadian penyakit
DI =  = 72 %
Karena dari 20 sampel tanaman hanya 18 tanaman yang terinfeksi patogen.
  1. 2.      Keparahan penyakit
Perhitungan minggu ke 1
= 19%


Pembahasan 

Pengukuran penyakit sering kali masih bersifat subjektif sehingga dalam mengkuantitatifkan penyakit perlu dibuat standar diagram yang spesifik untuk masing-masing jenis tanaman, patogen, penyakit, lokasi dan bagian tanaman yang terserang, misalnya daun muda, daun tua, atau keseluruhan daun (Sinaga, 2006). Diseases severity (DS) atau intensitas penyakit adalah proporsi area tanaman yang rusak atau dikenai gejala penyakit karena serangan patogen dalam satu tanaman.
Intensitas penyakit merupakan ukuran berat-ringannya tingkat kerusakan tanaman oleh suatu penyakit baik pada populasi atau individu tanaman (Adnan, 2009). Sedangkan kejadian penyakit (KiP) adalah persentase jumlah tanaman yang terserang patogen (n) dari total tanaman yang diamati (N). Adapun rumus perhitungan dari insidensi penyakit = (n/N) x 100%  (n = jumlah tanaman yang tergolong dalam suatu kategori serangan, N = jumlah tanaman yang diamati). Sedangkan severitas penyakit atau keparahan penyakit = {(∑nxv)/(NxV)}x100% (v = skor pada setiap kategori serangan, V = skor untuk kategori serangan terberat). Sangat penting bagi kita untuk mengetahui seberapa parah intensitas penyakit yang ada pada suatu area tanam dan menentukan tingkat serangan pertanaman dalam populasi. Oleh karena itu, terdapat beberapa metode untuk menghitung tingkat intesitas atau keparahan penyakit. Dua diantaranya adalah metode kelas serangan (scoring) dan metode proporsi langsung.
Kedua metode ini cocok digunakan untuk penyakit-penyakit yang menunjukkan gejala parsial (tidak sistemik) contohnya bercak daun, dll. Pada metode serangan atau skoring menggunakan pembagian kelas atau skor dalam menilai skala kerusakan tanaman. Terdapat lima kelas ditambah satu kelas yaitu 0. Pada daun teh yang kami amati, penilaian tergantung dari seberapa luas (%) permukaan daun yang terserang bercak lalu diberi skor sesuai dengan selang nilai kelas serangannya. Untuk metode proporsi langsung tidak menggunakan pembagian kelas serangan atau skor. Penilaian keparahan penyakit dihitung langsung dengan memperkirakan presentase luas permukaan daunt teh yang terserang karat merah.
Besar kecilnya keparahan penyakit ini sangat dipengaruhi oleh skala penyakit tanaman. Semakin parah penyakit pada tanaman maka skala penyakit akan semakin tinggi. Besarnya nilai keparahan penyakit pada tanaman teh telah sesuai dengan pengamatan dimana sepanjang hamparan pertanaman teh sangat mudah dijumpai penyakit karat merah pada daun yang disebabkan oleh Chepaleuros pestalotia.
Gejala penyakit terlihat dari atas permukaan daun yang tampak bercak-bercak kemerahan dan berbulu. Penyakit ini umumnya menyerang daun tua. Bercak karat merah alga Chepaleuros sp. berwarna merah jingga timbul karena adanya hormon hematokrom yang muncul saat kotak spora siap berproduksi. Gejalanya muncul bintik orange kecoklatan berbentuk cakram di permukaan atas daun yang lama-kelamaan melebar dan tampak hangus. Ini karena alga memproduksi filamen yang menjadi tempat berkembangnya zoosporangium. Zoosporangium kemudian menghasilkan zoospora yang menyebar lewat angin, percikan air, dan hujan. Zoospora biasanya menginfeksi daun muda, tunas, dan buah.
Pengendalian penyakit dilakukan secara mekanis yaitu cabang yang terinfeksi biasanya teranungi, pangkas, atau hilangkan naungannya. Kemudian, memperbaiki drainase agar kelembagaan berkurang. Secara kimiawi dapat menyemprotkan pestisida berbahan aktif tembaga dan senyawanya. Budidaya yang dapat dilakukan yaitu mencegah tanaman stress dengan mencukupi kebutuhan air dan pupuk. Pangkas secara teratur agar mengenai semua bagian tanaman. Selain itu, pengendalian lainnya yaitu menggunakan pestisida, penyemprotan pestisida tidak dilakukan secara rutin melainkan ada waktunya. Karena jika disemprot pestida secara terus menerus takutnya akan berdampak pada kesehatan manusia yaitu mengkonsumsi teh tersebut. Penggunaan pestisida yang jarang menyebabkan tanaman teh rentan terserang hama yaitu hama trips, ulat grayak, ulat jengkal, dan ulat penggerek pohon.
Praktikum kali ini kami lakukan di daerah pertanaman percobaan Cikabayan, Dramaga Bogor. Karat merah tampak berupa bulatan merah bata kecoklatan dengan diameter beragam, tanda penyakit ini banyak ditemukan pada daun teh yang tua, namun ditemukan juga pada daun teh yang muda tetapi dengan jumlah yang lebih sedikit.
Pada hasil perhitungan kejadian penyakit kelompok kami memperoleh hasil 72 %, sedangkan untuk tingkat keparahan penyakit hasil yang didapatkan berturut-turut dari minggu ke-1 sampai minggu ke-3 adalah 19%, 20%, dan 20%. Sebenarnya data pada minggu ke 3 tidak valid karena kami menemukan ada daun yang ditandai pada tanaman sampel menghilang akibat kegiatan peremajaan atau pemetikan daun yang dilakukan oleh pengelola

BAB V
KESIMPULAN

Tingkat kejadian penyakit merupakan data yg merepresentasikan berapa persen tanaman yang ada di lapangan yang terserang penyakit, sedangkan keparahan penyakit merepresentasikan seberapa parah patogen menyerang dan menyebabkan gejala pada tiap tanaman di lapangan, hasil yang di peroleh pada kejadian maupun keparahan penyakit tidak selalu sama pada kasus kali ini tingkat kejadian penyakit sebesar 72 % dan tingkat keparahan penyakit berturut – turut dari minggu ke satu sampai minggu ke tiga adalah 19 %, 20%, 20%.


DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2008. KejadianPenyakit.(terhubung berkala). http://www.fpik.unair.ac.id (08 Mei 2012)
[Anonim]. 2012. Cephaleuros pada teh. (terhubung berkala) http://ucjeps.berkeley.edu/constancea/83/lopez_etal/trent_allfigs.html (12 Mei 2012)
Delvin, M. Robert. 1966. Diseases Severity. New York: Reinhold Publsihing
M.Sultoni Arifin, Dr. dkk. 1992. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Teh. PusatPenelitian Perkebunan Gambung. Bandung
Rasjid Sukarja, Ir. 1983. Petunjuk Singkat Pengelolaan Kebun Teh. BadanPelaksana Protek Perkebunan Teh Rakyat dan Swasta Nasional. Bandung.
Sinulingga, A.P. 2001. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman teh (Camellia sinensis (L) kuntze) di PTPN VIII perkebunan Gedeh, Cianjur Jawa Barat. Bogor: Istitut Pertanian Bogor
Zadoks,C.J. and R.D.Schein. 1979. Epidemiology and Plant Disease Management. New York: Oxford University Press. 427 pp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar